Marwah

Atas satu atau beberapa alasan, saya tidak terlalu menikmati prosesi wisuda. Jangan salah, saya tetap senang diwisuda. Diucapkan doa baik dari teman-teman yang datang, pemberian hadiah-hadiah, serta prosesi wisudanya sendiri yang menandai babak baru dalam kehidupan saya. Tetapi saya tidak merasakan yang orang-orang sebut sebagai demam haru-biru setelah sukses jadi sarjana. Perasaan itu malah saya dapatkan ketika acara yudisium.

Setelah jadwal sidang skripsi terakhir selesai, kami-kami yang sidang skripsi di semester tersebut dipanggil lagi, dikumpulkan di satu ruangan, untuk dinyatakan “lulus” secara resmi oleh kaprodi/kajur. Pada waktu itu juga kami diberikan wejangan oleh Bapak-Ibu dosen yang hadir kala itu. Satu yang ingat benar dan saya camkan betul-betul waktu itu adalah mereka meminta kami, alumni baru Universitas Negeri Jakarta, untuk menjaga marwah Universitas Negeri Jakarta. Kenapa ini penting sekali? Karena tindakan saya, terutama di ranah akademik, implikasinya bukan lagi ke saya seorang, tapi juga ke UNJ. Marwah (yang baku sebenarnya “muruah”, serapan langsungnya dari bahasa arab; tapi nggakpapa tulisan ini pakai “marwah”, biar agak melayu dikit) UNJ di dunia luar ya ditentukan oleh pencapaian para alumninya. Kalau kami berprestasi, jadi guru teladan, sering nulis publikasi ilmiah, menemukan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat banyak, maka marwah UNJ juga ikutan baik sebagaimana marwah kita. Sebaliknya berlaku pula kalau kita jadi guru yang enggak bagus-bagus amat atau bahkan sampai melakukan tindak pidana.

Jujur saya merasa haru betul waktu itu. Bagaimana tidak, saya sudah jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Saya harus lebih bertanggung jawab dalam tindakan saya ke depannya karena ini bukan hanya soal saya lagi, tetapi juga soal kampus saya yang perlu dijaga marwahnya. Rasanya punya beban berat betul waktu itu–tetapi sekaligus merasa bangga karena saya dianggap layak mengemban beban tersebut.

Belakangan marwah UNJ agak tercoreng. Alma mater saya jadi spotlight di situs berita online–for all the wrong reasons. Sebelumnya pernah sih begini dulu soal surat pemberhentiannya Ronny (kebetulan junior sefakultas saya, selisih dua/tiga tahun), ketua BEM yang katanya terlalu kritis sama kampus. Namun apa yang terjadi sekarang ini agaknya lebih masif, sistematis, dan terstruktur; karenanya efeknya agak lebih mencoreng ketimbang yang kejadian kemarinan itu. Dimulai dengan adanya temuan disertasi yang sarat akan plagiarisme. Habis itu ada laporan-laporan khusus tirto.id soal birokrat kampus yang banyak masalah, sampai soal kekuasan keluarga bapak rektor yang, meminjam istilahnya tirto, menggurita. Belakangan malah ada screenshot dari surat kementrian yang menyatakan bahwa ada program pascasarjana di UNJ itu tidak layak. Kampus saya kok banyak betul cobaannya, ya.

Saya sedih betul atas berita-berita ini. Bagi sebuah institusi akademik, kena masalah plagiarisme itu ya sudah pukulan betul. Saya tidak akan komentar soal pak rektor dan macam-macamnya itu karena saya merasa perlu menjaga nama baik Paknya, apalagi kalau memang belum ada putusan bersalahnya. Silakan baca laporannya tirto yang cukup lengkap soal itu. Terus soal pascasarjana yang nggak layak, aduh, ini tuh juga sedih banget. Kayaknya alumninya jadi ada kesan nggak kompeten betul, gitu.

Kembali soal jaga-menjaga marwah, kali ini marwah UNJ tercoreng bukan oleh alumninya, tetapi oleh internal kampus sendiri. Lha ya kalau mau adil, bukannya kali ini malah UNJ yang mencoreng marwah alumninya? Berapa banyak dari kita yang di tempat kita mengajar/bekerja kemarin bahas soal kasus-kasus itu, baik secara tatap muka ataupun lewat grup Whatsapp? Ketika lagi dirasani¬†begitu, apalagi sampai kirim-kirim link segala, ya saya agak malu juga, sih. Tetapi hal itu bukan alasan saya menuliskan ini. Soal malu atau marwah atau harga diri saya itu soal kecil saja; yang besar adalah UNJ yang sedang sakit–dan saya turut merasa prihatin atasnya.

Bukan pula tulisan ini diniatkan untuk jelek-jelekin UNJ, lah ya saya justru nggak bakal nulis begini kalau nggak sayang betul sama UNJ. Astaga gimanalah saya mau benci sama kampus itu? Setelah lulus SMA saya di UNJ 5 tahun kuliah, lantas 3 tahun mengajar di Yayasan Pembina UNJ. Sampai adik saya nanti juga insyaa-a Allaah mau coba masuk ke UNJ. Tiga pekerjaan saya setelah lulus kuliah direkomendasikan dari dosen-dosen saya di UNJ. Lha yo kurang kuat apalagi ikatan emosional saya sama UNJ? Justru karena UNJ memberikan banyak sekali kepada saya, saya merasa, meminjam istilah Sudjiwo Tedjo, berhutang rasa ke kampus itu. Makanya saya selalu mendoakan UNJ itu ya yang baik-baik.

Masalah ini menjadi lebih mendesak karena UNJ itu bukan hanya menyiapkan pemimpin masa depan (seperti mottonya), tetapi juga menyiapkan orang yang akan menyiapkan pemimpin masa depan: para guru. Kalau kalian suka dengar celetukan merendahkan yang diawali oleh “orang Indonesia mah gitu emang…”, percayalah itu sebagian besar ya karena masalah pendidikan. Lantas masalah pendidikan itu acapkali bermuara pada guru-gurunya, dan guru yang baik tentu akan bisa mengurangi masalah-masalah itu. UNJ, bersama dengan PTIK yang lain, berada di garis depan soal menyediakan guru-guru yang baik bagi negara ini.

Selanjutnya, izinkan saya mengajak rekan-rekan alumni UNJ, baik yang lulus dari UNJ ataupun yang lulus pas masih zaman IKIP, untuk berdoa agar masalah ini segera diselesaikan. Pihak kampus pun semoga bisa segera memperbaiki diri dengan caranya masing-masing, entah lebih ketat soal tugas akhir yang sarat plagiarisme, sampai kalau perlu menutup program-program yang dianggap mencetak lulusan yang tidak layak. Entahlah, saya percayakan pada dosen-dosen dan pengurus di UNJ untuk membawa kampus keluar dari segala permasalahan ini.

Terakhir, saya akan menutup tulisan ini dengan mengingatkan kembali semua pemangku kepentingan UNJ (baik alumni ataupun yang masih ada di kampus) kepada bait terakhir dari Hymne UNJ:

Dalam hati kami semua, teguh bertekad satu.
Junjung tinggi Universitas Negeri Jakarta.
Junjung tinggi Universitas Negeri Jakarta.

Itu semacam cita-cita yang sudah diikrarkan. Semoga kita bisa menjalani bagian kita masing-masing untuk menepatinya: menjunjung tinggi marwah Universitas Negeri Jakarta.

Iklan

KH Ahmad Dahlan, no. 14

Lebaran kemarin itu adalah lebaran pertama saya dalam 8 (DELAPAN!!!) tahun tanpa mengemban status sebagai Mahasiswa UNJ maupun “Pegawai” UNJ. 2009 saya masuk kuliah. Lulus maret 2014. April 2014 mulai ngajar di SMA Labschool Kebayoran–sampai akhirnya saya resign bulan lalu.

Apa rasanya? Aneh. Sungguh bukan lebai, awalnya pun pikiran mo resign mah resign aja ya. Tapi makin ke sini (belagu amat segala makin ke sini, ngasih surat pengunduran diri aja belom ūüėā) kok ya makin merasa banyak aja hal yang nantinya saya akan merasa keilangan, gitu. They say the things you miss most are the things you took for granted. Dan, iya juga.

Mulai dari yang jelas, saya akan kehilangan THR tahun depan (alhamdulillah taun ini masih dapat), gaji sekian juta perbulan (sekiannya disensor untuk menghindari konflik horizontal demi keutuhan NKRI ūüėā), dan doorprize-doorprize. Tiga tahun di sini aja saya dapat Oven Listrik dan Toaster (POMG), BluRay Player (prom Tridakara), sama TV 32 inch (prom Catragana).

Apkah sebatas material saja yang dikangenin? Enggak. Banyak hal-hal kecil juga. Misal saya akan kehilangan makan lontong cap gomeh DAN/ATAU empal gentong di acara halal bi halal Rawamangun. Lalinju sampe kaki kesemutan rasa mau mati juga pasti ngangenin (fact: sebelum masuk labschool saya lari 2 km aja ga pernah, tau-tau 17 km aja kan, kuat pula dua taun berturut-turut). TO ke Purwakarta makan sate maranggi murah yang rasio gajih/lemak = 1:1 juga salah satu yang akan paling dirindukan ya. Itu semua dan masih banyak lagi kegiatan seru. Tak lupa para rekan guru beserta pimpinan yang suportif sama saya selama di Labschool dan murid-murid dari yang “oh he’s gonna be smarter than me within two years” sampai yang “ya allah ini anak siapa sih”. Hal-hal ini adalah hal yang akan lebih saya rindukan ketimbang hal-hal materiil yang saya sebutkan sebeluknya.

Apakah ngajar di Labschool semuanya seenak itu? Lha ya jelas enggak. Makanya orang kalau kilas balik hidupnya itu ngomongnya “suka dan duka”, bukan “suka” aja. Tetapi laiknya orang wafat yang sebaiknya tidak dibicarakan sama sekali kecuali tentang kebaikannya, saya memilih untuk menceritakan baik-baiknya saja setelah perpisahan saya–yang baik-baik ini–dengan Labschool.

Implikasi besar lain dari saya ngajar tepat tiga tahun di sini ya saya cuma bisa ajar satu angkatan: Caturdasa Satyagana Patibrata (Catragana; angkatan keempat belas SMA Labsky). Makanya wisuda kemarin itu ya semacam saya anggap sebagai semacam wisuda buat saya juga, namanya masuknya bareng keluarnya bareng pula. Sayang aja ga kebagian medali wisudaan. ūüėā

Sekarang ya keputusan sudah diambil. Kapal sudah berlayar. Ya tinggal menjalani kelanjutannya saja, melangkah ke lembar baru kehidupan. Betapapun rasanya bakal kangen sama KH Ahmad Dahlan 14, saya semacam sudah tahu saya nggak akan bisa di situ selamanya. Rasanya tiga tahun itu ya waktu yang optimal saja bagi saya untuk mengabdi di sana sembari belajar terus untuk jadi guru yang paripurna.

Katanya jangan menyesali perpisahan tapi syukurilah karena suatu hal pernah terjadi. Dan saya sungguh bersyukur pernah punya kesempatan gabung sama keluarga besar Labsky. No regrets whatsoever. Kalaulah hidup ini diputar ke Maret 2014 lagi, ketika saya disuruh Bu Pinta Deniyanti (mantan kajur Matematika UNJ) naruh lamaran ke Labsky, saya akan tetap mengambil keputusan yang sama. Karena, hey, what’s not to like? ūüėČ

“PadaMu Tuhan, kumohonkan.. Berkah umurnya, sekolah kita..”

Wisnu Aribowo, mantan guru honorer SMA Labschool Kebayoran, 2014-2017.IMG_20170418_230322_488.jpg

Statistical Correctness

Kalian tahu apa itu statistical correctness? Kalau tidak tahu ya nggak apa-apa, lha wong itu frasa yang saya buat sendiri. Hahaha. Biar gaul aja gitu, kedengarannya seperti political correctness. Dua hal ini, menurut pemikiran sotoy saya, ternyata agak mirip.

Cerita ini semua sebenarnya berawal dari mainan FPL. Saya melakukan perjudian yang cukup besar pra gameweek 10 kemarin: menjual Aguero. Hasilnya? Saya rugi. Hahaha. Lalu saya menyesal melakukannya kenapa sih saya gegabah sampai merugi begini. Sampai pada akhirnya saya ingat kenapa saya melakukan pertukaran itu: karena statistik. Kemudian saya jadi nggak lagi menyesal (?) Perasaan lega karena memutuskan sesuatu yang telah dihitung dengan statistik, sekaligus berlepas diri dari segala konsekuensinya, adalah definisi dari perasaan statistically correct. Definisi ini jelas tidak akan ada di kamus Merriam-Webster, ya. Tolong nggak usah dicari. (hitungan detailnya tentang kejadian FPL ini sudah saya jadikan status Facebook di sini)

Kalau kalian tidak terlalu paham FPL dan hitung-hitungannya itu, saya akan berikan simulasi lain terkait statistical correctness ini. Bayangkan sebuah simulasi yang melibatkan seorang pembunuh, sebuah pistol, dua buah tombol, dan sebuah dadu. Kita berada dalam ancaman ditembak kepalanya sama sang pembunuh. Tetapi, pembunuh tersebut memberikan kita kesempatan untuk selamat lewat lemparan dadu. Ketentuannya adalah seperti ini.

  • Kalau kita tekan tombol merah, pembunuh itu akan membebaskan kita apabila keluar mata dadu 1 atau 2.
  • Kalau kita tekan tombol biru, pembunuh itu akan membebaskan kita apabila keluar mata dadu 3, 4, 5, atau 6.

Apa yang akan kita pilih? Tentu saja tombol biru, kan? Meskipun konsekuensinya adalah kalau keluar mata dadu 1 atau 2 matilah kita, tetapi itu masih memberikan peluang yang lebih baik ketimbang tombol merah, kan? Rasanya sih tidak ada pembaca tulisan ini yang mau memilih tombol merah deh.

Sekarang, oke kita sudah pilih tombol biru. Lantas dadu dilempar, lalu keluarlah mata dadu 2. Ditembaklah itu kepala kita. Tetapi apakah kita bakalan menyesal? Ya tidak. Kita¬†tidak bisa¬†menyesal. Kita sudah mengambil keputusan yang memberikan kita kemungkinan selamat paling besar.¬†Itu dan hanya itulah hal terpentingnya. Karena itu satu-satunya hal yang bisa kita kontrol/pengaruhi. Kita tidak bisa mengontrol mata dadu mana yang akan keluar, toh? Makanya, kalau ada pepatah¬†“being politically correct doesn’t make you correct”,¬†rasanya hal itu juga berlaku dalam hal ini, ya. Mirip-miriplah:

Being statistically correct doesn’t win your bet.

Pengambilan keputusan dengan menggunakan statistika ini tentu saja sudah digunakan oleh banyak orang. Dalam kuliah Operational Research saya dulu dipaparkan beberapa simulasi dari bagaimana perusahaan/badan hukum mengambil keputusan besarnya menggunakan statistika. Apakah sebuah perusahaan pertambangan harus membuka titik ekspedisi baru atau tidak. Ada juga bagaimana perusahaan asuransi menentukan premi yang didasari oleh faktor risiko. Atau, di mana saja seharusnya seorang calon presiden berkampanye agar memperoleh lonjakan pemilih terbesar. Itu semua, dapat dilakukan dengan statistika. Keren, kan? Meskipun, beberapa hitungannya tidak sesederhana macam hitungan FPL itu. Kita harus pertimbangkan juga independensi antar kejadian menggunakan rumusan Bayes, misalnya. Atau, beberapa masalah tadi malah dikerjakan dengan metode machine learning yang dilakukan komputer canggih. Tetapi itu tidak mengurangi esensi dari betapa pentingnya statistical correctness itu.

Di luar segala prosedur yang kompleks itu, kita juga bisa menerapkan statistical correctness untuk masalah kita sehari-hari. Selain bahasan soal FPL, saya pernah menulis apakah kita seharusnya memutuskan nembak untuk jenis soal benar +4 salah -1 di blog teman saya ini (silakan cek entri lainnya juga di situ, gaul-gaul loh). Nanti pada akhirnya kalau kita sudah terbiasa menjadi orang yang menjunjung tinggi statistical correctness dalam segala aspek kehidupan kita (ya ampun udah macam konstitusi aja ya ini), maka kita tidak akan mudah emosian. Tidak baperan lagi kalaulah kita salah menentukan pilihan. Karena kita paham kita tidak selalu tahu pilihan mana yang benar, kita hanya bisa tahu pilihan yang secara statistik benar.

Membunuh dihukum ringan, Membela dihukum berat: Persidangan Cikeusik

‚ÄĒstoryboard

Catatan atas persidangan kasus serangan mematikan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang digelar secara simultan selama 5 bulan pada 2011. Para pelaku pembunuhan dan pengeroyokan hanya dihukum 3-6 bulan penjara; adapun seorang Ahmadi, yang mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawanya, diseret ke pengadilan di bawah hukum compang-camping dan divonis 6 bulan penjara. Saya menyentuh kembali esai ini lantaran diminta untuk memeriksa dokumentasi naratif mengenai persekusi terhadap muslim Ahmadiyah di Indonesia, sejak kemunculan fatwa MUI sampai SKB 2008, dalam sebuah buku yang direncanakan terbit akhir tahun ini.

kartun-rest-in-peace-rip-penegakan-hukum-hendrikus-david-arie-mulyatno-sp ‚ÄúRest in Peace (RIP) Penegakan Hukum‚ÄĚ ¬©2013 Hendrikus David Arie Mulyatno. Karikatur ini terbit di Suara Pembaruan edisi 17 Oktober 2013 dan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. Sumber dari sini.

SIDANG KASUS CIKEUSIK berlangsung di Pengadilan Negeri Serang, Banten. Ke-12 terdakwa, dengan 11 berkas, menjalani proses persidangan sejak 26 April 2011, berlangsung di tiga ruangan terpisah, berjalan simultan, satu demi satu terdakwa diproses, setiap Selasa dan Kamis.

Kasus ini juga menjerat Deden Sudjana dari muslim Ahmadiyah…

Lihat pos aslinya 3.280 kata lagi

Mukjizat Kecil yang Besar

Tulisan ini dibuat di tengah ramainya sengkarut soal Dimas Kanjeng. Saya memilih untuk diam saja cukup lama tapi kok gatal juga. Sekalian saya juga ada ide nulis seperti ini.

Waktu saya mulai masuk SD/awal belajar di TPA sering dengar tentang kisah mukjizat-mukjizat Muhammad yang luar biasa itu. Dan kami senang mendengarnya. Ya semuanya dulu suka nonton Ultraman/Power Rangers, kan? Senang betul jika ada cerita soal orang-orang yang punya kekuatan luar biasa, makanya senang betul pula ketika tahu junjungan kami punya sesuatu yang sama.

Bahkan ketika pelajaran Agama di sekolah formal mengatakan bahwa mukjizat terbesar rasulullah adalah diturunkannya al quran kepada beliau, saya agak kecewa sebenarnya. Maksudnya, bukannya ada banyak mukjizat lain yang lebih keren, ya?

Sekarang saya sudah lebih dewasa. Kisah-kisah itu jadi semakin hambar saja rasanya. Maksudnya, yasudah Muhammad bisa melakukannya, keren. Toh kita juga nggak bisa menirukannya, kan? Saya malah menemukan fetish baru untuk genre hadis terkait beliau, yaitu kisah-kisah beliau yang sebenarnya manusiawi — dalam artian dapat ditiru oleh manusia biasa macam kita —¬†namun ternyata amat sulit untuk ditiru. Saya menyebutnya sebagai mukjizat kecil yang besar. Untuk mudahnya saya akan berikan beberapa contoh.

Kita selalu dengar soal kisah Muhammad yang menyuapi seorang Yahudi buta. Di ujung pasar ada seorang yahudi. Buta. Benci betul sama rasulullah. Tiap hari menyebarkan fitnah yang bukan-bukan soal beliau. Apa yang beliau lakukan? Menyuapinya makan setiap hari. Eh mana pas nyuapin masih aja dia ngoceh fitnah tentang Muhammad? Yailah, kalau kita yang berada di posisinya rasulullah waktu itu, pengen nggaplok aja kali rasanya ūüėā. Tapi beliau, dengan segala kemuliaannya, memilih untuk menahan diri. Konon kebaikan tanpa syarat inilah yang membuat yahudi tadi menyesal dan memilih masuk islam selepas wafatnya rasulullah.

Kisah itu saya dengar sudah sering sekali, tetapi saya masih merasakan “sesuatu” ketika nemu hadis ini di mana gitu. Ya gila ajalah. Bagi saya, tidak membalas orang yang jahat sama saya saja sudah terhitung baik sekali. Tapi kalau harus membalasnya dengan kebaikan yang lain? Duh, makasih deh. ūüėā Hadis ini juga seharusnya jadi contoh penyangkal bagi orang yang dikit-dikit ngomongnya penggal-penggal darahnya halal. Lha wong nabinya sendiri aja sesabar itu, je?

Contoh mukjizat kecil yang besar lainnya adalah hadis yang baru pertama kali saya baca sekitar sebulan yang lalu lewat statusnya Gus Nadir:

Salah satu akhlak Rasulullah SAW adalah membuat siapapun merasa nyaman berbicara dan bergaul dengan beliau. Orang Arab Badui yang jauh-jauh datang menemui beliau gemetaran saat berhadapan dengan Nabi. Untuk menenangkannya Nabi mengatakan, seperti direkam dalam Kitab Sunan Ibn Majah (hadis nomor 3303): “aku bukan raja. Aku putra seorang perempuan yang juga senang makan daging dendeng (yang dikeringkan di bawah sinar matahari).” Lihatlah bukan saja Nabi mengatakan bahwa beliau tidak perlu dihormati sebagaimana raja, tapi beliau juga mencari titik kesamaan antara tradisi Badui dengan apa yang dilakukannya. Dengan cara demikian, Badui itu merasa nyaman.

Pas saya baca ini, ya ampun. Dada saya tercekat. Lihatlah betapa Nabi itu tidak mentang-mentang meskipun dia itu manusia yang dimuliakan? Lihatlah betapa rendah hatinya rasul kita ini meskipun dia itu sesungguhnya layak untuk ditinggikan? Lihatlah betapa kontrasnya sama kita yang baru punya jabatan/kelebihan/jasa sedikit saja sudah minta diutamakan? Apa kita nggak malu, sama nabi?

Contoh terakhir yang akan saya berikan pada tulisan ini adalah hadis yang juga sudah cukup populer. Bahwa beliau tidak pernah makan kenyang selama tiga hari berturut-turut sampai akhir hayatnya. Beliau bisa minta APAPUN sama pengikutnya, dan pasti akan diberi. Tapi nggak, beliau memuaskan diri dengan hidup sekadar cukup.

Ini, bagi saya, adalah contoh hidup sederhana yang paling susah ditiru oleh manusia modern. Makanya kalau kita bisa meniru sebagian kecilnya saja, itu sudah bagus sekali. Hidup sederhana itu bukan berarti harus dalam kesehariannya makan nasi/garam semata. Tetapi menurut saya, esensinya ada pada merasa cukup atas apa-apa yang diperoleh. Nah mempertimbangkan itu semua, mana mungkin, sih, orang yang (katanya) taat ikuti ajaran beliau, malah ramai-ramai memperkaya diri? Lewat cara ghaib pula ūüėČ

Lebaran Sederhana, Lebaran Berbahagia

Hari raya idul fitri dan idul adha adalah dua hari raya besar yang dirayakan oleh umat islam di seluruh dunia. Cara merayakannya pun bermacam-macam. Kalau di Indonesia, lebaran itu biasanya identik dengan beberapa kata lain seperti mudik, nastar, ketupat, opor, dan masih banyak lagi. Rasanya tidak lengkap berlebaran tanpa mencicipi hal-hal tersebut. Sudah menjadi tradisi.

Namun belakangan, sejak maraknya media sosial dan aplikasi pengirim pesan instan, ada tradisi baru: tradisi berdebat. Sebenarnya sih tidak hanya pada lebaran, pada banyak kesempatan lain juga kerap dilakukan soal berdebat ini. Entah itu untuk merespon isu-isu terkini atau sekadar isu tahunan seperti halal/haram¬†valentine,¬†ucapkan selamat natal, dan lain-lain. Khusus untuk lebaran idul fitri, dulu yang kerap jadi perdebatan adalah soal “bagaimana ucapan idul fitri yang dianjurkan¬†sunnah”¬†sama soal “apa hukum meminta maaf saat idul fitri?” Lucu, kan?¬†Kadang sampai pusing juga sih karena grup jadi penuh dengan pesan-pesan semacamnya.

Lalu ada juga pandangan yang bukan debat, tetapi bikin agak¬†mikir¬†juga. Seperti misal, apakah betul puasa kita diterima? Apakah betul kita merupakan golongan orang yang meraih kemenangan? Atau yang agak lebih¬†dramatis¬†seperti kita itu seharusnya bersedih karena ditinggalkan sama bulan Ramadan–dan bahwa tahun depan kita belum tentu bertemu lagi.

Tetapi ada satu perkataan teman saya yang, dengan luar biasanya, membuat saya melupakan semua itu. Saya jadi tidak menganggap hal-hal yang saya sebut tadi itu menjadi masalah. Dia punya pandangan yang menarik soal hari raya lebaran ini. Katanya:

Ini ‘kan hari raya, semuanya harus berbahagia.

Asyik, kan? Gitu aja pandangan dia. Jadi mau kalian itu minta maaf atau nggak mau minta maaf pas lebaran, mau ucapan hari rayanya seperti apa, ayolah berbahagia–ini kan hari raya. Pun dengan yang memikirkan soal kemenangan/bukan kemenangan,¬†perginya¬†bulan Ramadan, atau masalah-masalah berat lain; ayo berbahagia juga. Silakan berkaca diri, namun jangan sampai kalian lupa berbahagia di hari raya ini.

Jadi, pergilah keluar. Kumandangkan takbir. Pergilah pawai kalau kalian mau. Buatlah kue. Makan opor ayam. Pokoknya lakukan apapun yang membuat kalian berbahagia. Karena ini toh hari raya; dan semuanya harus berbahagia.